Efek Obat Anti Bisa Ular (SABU) untuk Racun Kobra: Cara Kerja dan Reaksinya

Tittle :Efek Obat Anti Bisa Ular (SABU) untuk Racun Kobra: Cara Kerja dan Reaksinya

Efek Obat Anti Bisa Ular (SABU) untuk Racun Kobra: Cara Kerja dan Reaksinya

Gigitan ular kobra merupakan kondisi darurat medis karena racunnya mengandung neurotoksin yang menyerang sistem saraf secara cepat. Di Indonesia, satu-satunya obat medis yang diakui untuk menetralkan racun ini adalah Serum Anti Bisa Ular (SABU).

Namun, banyak orang yang bertanya-tanya: bagaimana sebenarnya efek obat tersebut terhadap racun kobra? Apakah obat tersebut langsung menyembuhkan, atau ada efek samping yang harus diwaspadai? Mari kita bahas secara tuntas.


Bagaimana Cara Kerja Obat Anti Bisa Ular?

Obat anti bisa ular (antivenom) bekerja dengan cara netralisasi. Serum ini mengandung antibodi yang secara khusus dirancang untuk mengikat protein racun (bisa) kobra yang beredar di dalam darah.

Setelah antibodi mengikat racun, racun tersebut menjadi tidak aktif dan tidak bisa lagi menempel pada sel saraf. Hal ini mencegah terjadinya kelumpuhan otot pernapasan yang menjadi penyebab utama kematian pada korban gigitan kobra.


Efek Positif Obat Terhadap Gejala Racun Kobra

Setelah pasien diberikan dosis SABU yang tepat oleh tenaga medis, berikut adalah efek positif yang biasanya terjadi:

1. Menghentikan Penyebaran Neurotoksin

Efek tercepat adalah terhentinya perkembangan gejala kelumpuhan. Jika pasien mulai mengalami kelopak mata turun (ptosis) atau sulit menelan, obat ini akan mencegah gejala tersebut memburuk hingga ke otot paru-paru.

2. Mengurangi Kerusakan Jaringan Lokal

Meskipun kobra Jawa lebih dikenal dengan neurotoksinnya, beberapa spesies kobra juga memiliki sifat sitotoksik yang merusak jaringan kulit. Pemberian serum secara cepat dapat meminimalisir risiko pembusukan luka (nekrosis) di area gigitan.

3. Menstabilkan Tanda-Tanda Vital

Pasien biasanya akan merasakan detak jantung dan tekanan darah yang lebih stabil seiring dengan berkurangnya kadar racun yang aktif di dalam sistem sirkulasi.


Efek Samping yang Mungkin Timbul (Reaksi Alergi)

Penting untuk diketahui bahwa SABU dibuat dari plasma kuda, sehingga tubuh manusia mungkin memberikan reaksi penolakan. Beberapa efek samping yang dipantau ketat oleh dokter adalah:

  • Reaksi Anafilaksis: Reaksi alergi berat yang ditandai dengan gatal-gatal, sesak napas, atau pembengkakan wajah. Ini terjadi sesaat setelah obat diberikan.
  • Serum Sickness: Reaksi yang muncul 5–10 hari setelah pengobatan, berupa demam, nyeri sendi, dan ruam pada kulit.
  • Menggigil dan Demam: Respon imun tubuh saat berinteraksi dengan protein asing dari serum.

Peringatan: Karena adanya risiko alergi ini, pemberian obat anti bisa ular wajib dilakukan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter spesialis, bukan dilakukan sendiri di rumah.


Langkah Darurat Sebelum Mendapatkan Obat

Sebelum pasien sampai ke rumah sakit untuk mendapatkan obat anti bisa ular, langkah “First Aid” yang benar sangat menentukan efektivitas obat nantinya:

  1. Imobilisasi: Jangan gerakkan bagian tubuh yang digigit. Gunakan bidai atau kayu untuk menyangga agar racun tidak cepat menyebar ke kelenjar getah bening.
  2. Jangan Diikat (Tourniquet): Mengikat terlalu kencang justru memicu pembusukan jaringan.
  3. Jangan Disedot: Menghisap darah dari luka gigitan sama sekali tidak efektif dan justru membahayakan penolong.

Kesimpulan

Efek obat untuk racun ular kobra (SABU) adalah untuk menetralkan bisa agar tidak menyerang sistem saraf. Meskipun sangat efektif menyelamatkan nyawa, obat ini memiliki risiko efek samping alergi yang serius, sehingga penggunaannya harus melalui prosedur medis yang ketat. Semakin cepat korban mendapatkan serum ini, semakin besar peluang kesembuhannya.

Link Pemesanan Suplemen Perangsang Herbal via online shop : https://palembangpafi.org/