Acetylcysteine: Fungsi, Dosis, dan Efek Samping

Title : Acetylcysteine: Fungsi, Dosis, dan Efek Samping

Acetylcysteine, sering dikenal dengan nama merek seperti Acetin, Fluimucil, atau NAC, adalah obat yang memiliki peran penting dalam dunia medis. Obat ini bekerja sebagai agen mukolitik dan penangkal keracunan paracetamol. Meskipun memiliki manfaat yang besar, penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk dokter.


Apa Itu Acetylcysteine?

Acetylcysteine adalah turunan dari asam amino sistein. Obat ini bekerja dengan cara memecah ikatan disulfida dalam molekul mukoprotein, yang merupakan komponen utama dari lendir. Proses ini membuat lendir menjadi lebih encer dan mudah dikeluarkan, sehingga membantu membersihkan saluran pernapasan.

Selain itu, acetylcysteine juga berperan sebagai prekursor glutathione, antioksidan penting dalam tubuh. Ketika terjadi keracunan paracetamol, tubuh akan kekurangan glutathione. Acetylcysteine membantu memulihkan kadar glutathione, yang kemudian membantu menetralkan metabolit beracun dari paracetamol.


Fungsi dan Manfaat

Acetylcysteine memiliki dua fungsi utama:

1. Sebagai Mukolitik

Acetylcysteine sering digunakan untuk mengobati kondisi yang ditandai dengan produksi lendir berlebih dan kental, seperti:

  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK): Acetylcysteine membantu mengurangi kekentalan dahak dan mempermudah pengeluarannya, sehingga pasien dapat bernapas lebih lega.
  • Bronkitis kronis: Mengencerkan dahak yang menyumbat saluran bronkial.
  • Fibrosis kistik: Penyakit genetik yang menyebabkan lendir tebal dan lengket menumpuk di paru-paru dan organ lain. Acetylcysteine membantu mengelola gejala pernapasan pada pasien ini.

2. Sebagai Antidotum Keracunan Paracetamol

Ini adalah salah satu peran paling vital dari acetylcysteine. Ketika seseorang overdosis paracetamol, metabolit beracun dari obat tersebut bisa merusak hati secara serius. Acetylcysteine diberikan melalui infus intravena atau oral secepat mungkin untuk mencegah kerusakan hati yang fatal.


Dosis dan Cara Penggunaan

Dosis acetylcysteine sangat bervariasi tergantung pada kondisi yang diobati, usia, dan berat badan pasien.

  • Sebagai mukolitik: Dosis umumnya adalah 200 mg, diminum 2-3 kali sehari, atau sesuai anjuran dokter. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet effervescent, sirup, dan bubuk.
  • Untuk keracunan paracetamol: Dosis yang diberikan jauh lebih tinggi dan biasanya diberikan melalui infus di rumah sakit. Dosis ini dihitung berdasarkan berat badan dan waktu terjadinya overdosis.

Penting: Selalu ikuti petunjuk dosis dari dokter atau apoteker. Jangan pernah mengubah dosis atau menghentikan penggunaan obat tanpa konsultasi.


Efek Samping dan Perhatian

Seperti obat-obatan lainnya, acetylcysteine juga memiliki potensi efek samping, meskipun tidak semua orang mengalaminya. Beberapa efek samping yang mungkin timbul antara lain:

  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala
  • Diare
  • Ruam kulit
  • Gatal-gatal
  • Reaksi alergi (jarang terjadi, tetapi serius)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Beri tahu dokter jika Anda memiliki riwayat asma atau tukak lambung, karena acetylcysteine dapat memperburuk kondisi tersebut pada beberapa kasus.
  • Jangan gunakan acetylcysteine untuk mengobati batuk kering. Obat ini hanya efektif untuk batuk berdahak.
  • Konsultasikan dengan dokter jika Anda sedang hamil atau menyusui sebelum menggunakan obat ini.

Kesimpulan

Acetylcysteine adalah obat serbaguna dengan peran ganda sebagai pengencer dahak dan penangkal keracunan paracetamol. Penggunaannya harus selalu di bawah pengawasan medis, terutama untuk kasus overdosis. Dengan pemahaman yang tepat tentang fungsi, dosis, dan efek sampingnya, acetylcysteine dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan kesehatan pernapasan dan menyelamatkan nyawa.

Link Pemesanan Suplemen Perangsang Herbal via online shop : https://palembangpafi.org/